TimUlasan

Rossi Seperti Buah Simalakama bagi Yamaha MotoGP

Rossi dan Yamaha MotoGP

Seperti diketahui, pada Sabtu pekan lalu di Sirkuit Red Bull Ring Spielberg Austria yang menjadi arena seri kesebelas musim ini pimpinan proyek Yamaha MotoGP Kouji Tsuya menggelar konferensi pers dan menyatakan permintaan maaf sehubungan dengan buruknya performa motor M1 Yamaha musim ini. Hasil yang diraih oleh Valentino Rossi sebagai pebalap utama Yamaha MotoGP pada Kualifikasi MotoGP Austria pada Sabtu pekan lalu dimana Rossi hanya meraih posisi ke-14 mengindikasikan adanya masalah serius yang tengah dihadapi oleh tim pabrikan Jepang itu.

Tetapi tindakan Tsuya pada Sabtu lalu dengan menggelar konferensi pers untuk menyatakan permintaan maaf masih menyisakan tanda-tanya bagi sebagian kalangan. Rossi sendiri seusai MotoGP Austria pada Minggu (12/8/2018) dimana ia hanya meraih posisi ke-6 sebagaimana dilansir  Motorsport  mengatakan,”Saya bukanlah orang yang berwenang untuk menyatakan apakah permintaan maaf itu perlu atau tidak.”

Sudah bukan rahasia umum lagi bila pengaruh Rossi di tim Yamaha MotoGP sangat besar dan bisa jadi justeru telah menjadi bumerang bagi Yamaha sendiri. Setelah mengalami masa suram selama dua musim di Ducati, Rossi kembali ke Yamaha  MotoGP pada 2013 dan ketika itu Rossi tak mempunyai pilihan lain sehingga ia pun menerima peran sebagai orang kedua setelah Jorge Lorenzo karena pebalap Spanyol tersebut sukses mempersembahkan dua gelar juara dunia pada 2010 dan 2012.

Namun demikian, Lin Jarvis ketika itu mengatakan bahwa Rossi tetap diberikan fasilitas dan privilege yang sama seperti halnya Lorenzo walaupun Lorenzo mendapatkan peran utama untuk pengembangan motor M1 dan pebalap paling potensial yang dimiliki Yamaha untuk menorehkan berbagai prestasi di masa-masa selanjutnya. Pada kenyataannya, Rossi mulai membenahi image seiring dengan performa dan kemampuan komunikasi serta intriknya. Di saat yang bersamaan pada 2014, Lorenzo mendapati tahun itu dengan prestasi yang kurang menggembirakan.

Yamaha sejak itu juga mulai memperkuat komitmen kepada Rossi tanpa mempertimbangkan segala konsekwensinya. Contoh yang paling jelas terlihat pada 2015 manakala Lorenzo sukses menggapai gelar juara dunianya yang ketiga bagi Yamaha ketika ia sukses mengalahkan Rossi di seri pamungkas yang digelar di Valencia. Saat itu, demi menjaga perasaan Rossi, Yamaha memilih untuk membatalkan perayaan kemenangan yang telah dijadwalkan bagi Lorenzo.

Keputusan tersebut telah membuat Lorenzo mulai berubah pikiran hingga pada 2016 ia telah memutuskan untuk memilih hengkang ke tim Ducati satu musim berikutnya yaitu pada 2017. Dengan pindahnya Lorenzo ke tim Ducati, maka Rossi mendapatkan perannya lagi sebagai pebalap utama Yamaha dan berbagai peran lainnya termasuk mendapatkan dukungan penuh Yamaha bagi VR46 Academy yang dimilikinya.

Ketenaran Rossi yang telah menjadi ikon balap motor di seantero dunia membuat Yamaha MotoGP menjadikan Rossi sebagai anak emas mereka bahkan membuat Yamaha MotoGP berharap Rossi tetap bersama mereka ketika Rossi pensiun dari balapan motor nantinya.Kenyataan itulah yang agaknya menjadi alasan mengapa Tsuya sampai perlu menggelar konferensi pers untuk menyatakan permintaan maaf kepada semua fans Yamaha MotoGP pada Sabtu pekan lalu karena mereka berusaha melindungi Rossi yang telah menjadi ikon mereka.

Photo: GP-inside

 

Tags
Close