Pebalap

Puig: Rossi Sulit Terima Kenyataan Bila Masanya Sudah Habis

Masanya Kini Sudah Milik Marquez

Manajer tim Repsol Honda, Alberto Puig, mengatakan Valentino Rossi sulit menerima kenyataan kalau masa jayanya sudah habis karena Rossi belum sekalipun berhasil meraih gelar juara dunia sejak 2009 lalu. Sementara itu, sejak 2013 Marc Marquez berhasil mendominasi karena pebalap Repsol Honda itu baru sekali gagal meraih gelar juara dunia yaitu pada 2015. Jadi menurut Puig, masanya kini sudah milik Marquez.

Pada 2015 itu. Rossi menjadi runner- up dengan hanya terpaut 5 poin dari Jorge Lorenzo yang menjadi juara musim itu. Sejak itu rivalitas antara Rossi dan Marquez cenderung terus memanas.

Puig mengatakan bila sebenarnya ia sangat menghormati Rossi karena di usianya yang sudah 39 tahun, Rossi masih memiliki hasrat untuk bisa meraih gelar juara dunia kembali tetapi sayangnya menurut Puig, Rossi sulit menerima kenyataan bila waktu jayanya sudah habis.

“Saya menghormati Rossi karena dia pernah menunjukkan dirinya sebagai seorang pebalap hebat. Kini di usianya yang sudah 39 tahun, Rossi masih memiliki hasrat dan talenta untuk bisa tampil dengan cepat. Tapi dia tidak bisa menerima kalau ia sudah tak bisa lagi meraih kemenangan. Kini ia sulit menerima kenyataan kalau waktunya sudah usai. Kadangkala cara-cara yang digunakannya pun sudah tidak tepat lagi. Segala sesuatu itu ada masanya. Suka atau tidak, Marquez kini jadi nomor satu,” jelas Puig.

Perjalanan Karier Marquez

Seperti diketahui, pada seri kedua musim balapan 2018 lalu yang berlangsung di Argentina, Marquez menabrak motor Rossi yang membuat pebalap Movistar Yamaha itu terjatuh. Rossi kemudian mengecam Marquez. Marquez mencoba mendatangi garasi Yamaha untuk meminta maaf kepada Rossi, tetapi hal itu dihalangi oleh Uccio Salucci yang menjadi tangan kanan Rossi. Kemudian saat berlangsungnya konferensi pers di Misano, Rossi menolak uluran tangan Marquez untuk berjabat tangan.

Puig kemudian mengatakan bila Marquez tak ambil pusing dengan segala komentar dan pendapat yang dihembuskan oleh orang-orang di sekitar Rossi.

“Marquez itu tidak suka bersikap layaknya superstar. Dia tidak ingin berpura-pura menjadi bukan dirinya. Marquez sangat suka mendengar, belajar dan menghormati. Tapi begitu dia sudah di atas motornya, ia menunjukkan semuanya. Dia bagaikan mesin yang diprogram untuk tampil dengan kecepatan tinggi. Kesempurnaan itu tak pernah ada, tapi Marquez nyaris sempurna dan Marquez adalah seorang pebalap terbaik. Dia juga masih berpotensi untuk terus berkembang karena usianya yang masih muda,” terang Puig menegaskan masanya kini sudah milik Marquez.

Tags
Close